Showing posts with label Akidah. Show all posts
Showing posts with label Akidah. Show all posts

Tuesday, 23 December 2014

SYAHADAH KUNCI SYURGA, JALAN TAUBAT BAGI HATI YANG TERPAUT DENGAN CINTA ALLAH


SYARAT UTAMA BAGI ORANG YANG MASUK ISLAM
Pertanyaan:Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam?

Jawab:
 
Syarat  utama  bagi  orang  yang  baru  masuk  Islam   ialah mengucapkan  dua  kalimat  Syahadat.  Yaitu,  "Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu  anna  Muhammadar  Rasuulullah." Barangsiapa   yang   mengucapkan   dan  mengikrarkan  dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Dan berlaku  baginya hukum-hukum  Islam,  walaupun dalam hatinya dia mengingkari. Karena  kita  diperintahkan   untuk   memberlakukan   secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan kepada Allah. Dalil dari hal itu adalah ketika Nabi  saw.  menerima  orang-orang yang  hendak  masuk  Islam,  beliau  hanya mewajibkan mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat. Nabi saw.  tidak  menunggu hingga datangnya waktu salat atau bulan Puasa (Ramadhan).

Di  saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang   mengucapkan,   "Laa   ilaaha    illallaah,"    Nabi menyalahkannya  dengan  sabdanya, "Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah." Usamah lalu  berkata, "Dia  mengucapkan  Laa  ilaaha illallaah karena takut mati." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Apakah  kamu  mengetahui isi hatinya?"

Dalam  Musnad  Al-Imam Ahmad diterangkan, ketika kaum Tsaqif masuk Islam, mereka mengajukan satu syarat kepada Rasulullah saw,  yaitu  supaya dibebaskan dari kewajiban bersedekah dan jihad. Lalu  Nabi  saw.  bersabda,  "Mereka  akan  melakukan (mengerjakan) sedekah dan jihad."
 

ORANG YANG MENGUCAPKAN SYAHADAT, PASTI MASUK SURGA

Pertanyaan:
Bagaimana  hukumnya  orang  yang  semasa   hidupnya   selalu mengerjakan maksiat, akan tetapi pada akhir hayatnya (ketika sakaratul maut) dia mengucapkan dua kalimat Syahadat?
Jawab:

Barangsiapa yang meninggal dalam  keadaan  bertauhid,  yaitu sebelum  menghembuskan  nafasnya  yang terakhir dia berikrar dan mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia berhak berada di sisi Allah dan masuk surgaNya.
Orang  tersebut sudah dapat dipastikan oleh Allah akan masuk surga, walaupun masuknya terakhir (tidak bersama-sama  orang yang  masuk  pertama),  karena dia diazab terlebih dahulu di neraka  disebabkan   kemaksiatan   dan   dosa-dosanya   yang dikerjakan,  yang  belum bertobat dan tidak diampuni. Tetapi dia juga tidak kekal di neraka, karena didalam hatinya masih ada   sebutir   iman.   Adapun   dalil-dalilnya  sebagaimana diterangkan dalam hadis Shahih Bukhari  dan  Shahih  Muslim, yaitu:

Dari  Abu  Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa mengucapkan, 'Laa ilaaha  illallaah,' kemudian meninggal, maka pasti masuk surga."

Dari Anas r.a., bahwa Nabi saw. telah bersabda, "Akan keluar dari  neraka  bagi  orang  yang  mengucapkan,  'Laa   ilaaha illallaah,'  walaupun  hanya  sebesar  satu  butir  iman  di hatinya."

Dari Abu Dzar pula, dia  telah  berkata  bahwa  sesungguhnya Nabi  saw  telah  bersabda,  "Telah datang kepadaku malaikat Jibril dan memberi kabar gembira kepadaku, bahwa barangsiapa yang   meninggal   diantara   umatmu   dalam  keadaan  tanpa mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk surga, walaupun dia  berbuat  zina dan mencuri." Nabi saw. mengulangi sampai dua kali.
 
Banyak hadis yang menunjukkan bahwa kalimat Syahadat memberi hak untuk  masuk surga dan terlindung dari neraka bagi  yang mengucapkannya (mengucap Laa  ilaaha  illallaah).  Maksudnya ialah,  meskipun  dia  banyak berbuat dosa, dia tetap masuk surga, walaupun terakhir.

Sedangkan yang dimaksud terlindung dari neraka  ialah  tidak selama-lamanya  di  dalam  neraka,  tetapi  diazab  terlebih dahulu karena perbuatan maksiatnya.
 

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN SESEORANG

Pertanyaan:

Apa yang menyebabkan Islam seseorang menjadi batal?
 
Jawab:

Setiap  manusia,  apabila  telah  mengucapkan  dua   kalimat Syahadat,  maka  dia  menjadi orang Islam. Baginya wajib dan berlaku hukum-hukum Islam, yaitu beriman akan  keadilan  dan kesucian Islam. Wajib baginya menyerah dan mengamalkan hukum Islam  yang  jelas,  yang  ditetapkan  oleh  Al-Qur'an   dan As-Sunnah.

Tidak   ada   pilihan  baginya  menerima  atau  meninggalkan sebagian.  Dia  harus  menyerah  pada   semua   hukum   yang dihalalkan  dan  yang  diharamkan, sebagaimana arti (maksud) dari ayat di bawah ini:

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki  yang  Mukmin  dan  tidak (pula)  bagi wanita yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan,  akan  ada  bagi  mereka pilihan   (yang  lain)  tentang  urusan  mereka  ..."  (Q.s. Al-Ahzab: 36) .

Perlu diketahui bahwa ada diantara  hukum-hukum  Islam  yang sudah  jelas  menjadi  kewajiban-kewajiban,  atau yang sudah jelas diharamkan  (dilarang),  dan  hal  itu  sudah  menjadi ketetapan  yang  tidak  diragukan lagi, yang telah diketahui oleh ummat Islam pada umumnya. Yang demikian  itu  dinamakan oleh para ulama:

"Hukum-hukum agama yang sudah jelas diketahui."

Misalnya,  kewajiban salat, puasa, zakat dan sebagainya. Hal itu  termasuk  rukun-rukun  Islam.  Ada   yang   diharamkan, misalnya,  membunuh,  zina, melakukan riba, minum khamar dan sebagainya.

Hal itu termasuk dalam dosa besar. Begitu  juga  hukum-hukum pernikahan,  talak,  waris  dan  qishash, semua itu termasuk perkara yang tidak diragukan lagi hukumnya.

Barangsiapa  yang  mengingkari  sesuatu   dari   hukum-hukum tersebut,  menganggap  ringan  atau  mengolok-olok, maka dia menjadi kafir dan murtad. Sebab, hukum-hukum tersebut  telah diterangkan dengan jelas oleh Al-Qur'an dan dikuatkan dengan hadis-hadis  Nabi  saw.  yang  shahih  atau  mutawatir,  dan menjadi  ijma'  oleh  ummat  Muhammad  saw. dari generasi ke generasi.  Maka,  barangsiapa  yang  mendustakan  hal   ini, berarti mendustakan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Mendustakan  (mengingkari)  hal-hal tersebut dianggap kufur, kecuali bagi orang-orang yang baru masuk Islam (muallaf) dan jauh  dari  sumber informasi. Misalnya berdiam di hutan atau jauh dari kota dan masyarakat kaum Muslimin.

Setelah mengetahui ajaran agama Islam,  maka  berlaku  hukum baginya.
 

TIADA MANUSIA YANG SEMPURNA IMANNYA

Pertanyaan:

Apakah ada manusia yang sempurna?
 
Jawab:

Tiada manusia yang sempurna, karena setiap  orang  mempunyai kelemahan. Seseorang yang beriman, tentu mempunyai kesalahan dan memiliki sifat buruk yang sukar dihilangkan. Tiada orang Mukmin yang murni atau sempurna.

Pandangan orang jarang ditujukan pada hal-hal yang berada di pertengahan antara dua hal yang berdekatan.  Bagi  seseorang sesuatu  itu  warnanya  putih saja, sebagian yang lain hitam saja, mereka lupa adanya warna yang lain,  tidak  putih  dan tidak pula hitam.

Nabi  saw.  pernah  bersabda  kepada  Abu  Dzar r.a., beliau bersabda,  "Engkau  seorang  yang  masih  ada  padamu  sifat Jahiliyah."  Abu  Dzar  adalah  seorang  sahabat yang utama, termasuk dari orang-orang pertama yang beriman dan berjihad, akan tetapi masih ada kekurangannya.

Juga didalam Shahih Bukhari diterangkan oleh Nabi saw.:
"Barangsiapa yang meninggal bukan karena melakukan jihad dan tidak dirasakannya (tidak ingin) dalam jiwanya  maksud  akan berjihad, maka dia mati dalam keadaan sedikit ada nifaknya."
Abdullah  bin  Mubarak  meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. yang mengatakan sebagai berikut:
"Seorang Mukmin itu permulaannya tampak sedikit putih  dalam kalbunya;   setiap   kali  iman  bertambah,  maka  bertambah putihlah  kalbu  itu.  Begitu  seterusnya,  hingga  kalbunya menjadi putih semua.

Begitu juga kemunafikan, pertama ada tanda-tanda hitam dalam kalbunya; dan setiap melakukan kemunafikan,  maka  bertambah pula hitamnya, sampai hatinya menjadi hitam semua.

Demi  Allah,  jika  dibuka  hati  seorang Mukmin, maka tentu tampak putih sekali; dan jika dibuka hati orang kafir,  maka tentu tampak hitam sekali."
Ini berarti seseorang tidak dapat sekaligus menjadi sempurna imannya atau menjadi munafik, tetapi kedua hal itu bertahap, yakni sedikit demi sedikit.
 

SIAPAKAH YANG LAYAK DISEBUT KAFIR?

Pertanyaan:

Siapakah sebenarnya yang layak dihukumi (disebut) kafir?
 
Jawab:

Yang  layak  disebut   kafir   ialah   orang   yang   dengan terang-terangan  tanpa  malu  menentang  dan  memusuhi agama Islam, menganggap dirinya kafir dan bangga akan perbuatannya yang terkutuk.

Bukan  orang-orang Islam yang tetap mengakui agamanya secara lahir, walaupun dalamnya  buruk  dan  imannya  lemah,  tidak konsisten  antara  perbuatan  dan ucapannya. Orang itu dalam Islam dinamakan "munafik" hukumnya.

Di dunia dia tetap dinamakan (termasuk) orang Islam,  tetapi di akhirat tempatnya di neraka pada tingkat yang terbawah.

Di  bawah  ini  kami  kemukakan  golongan (orang-orang) yang layak disebut kafir tanpa diragukan lagi, yaitu:

1. Golongan Komunis atau Atheis, yang percaya pada suatu  falsafah dan undang-undang, yang bertentangan dengan syariat  dan hukum-hukum Islam. Mereka itu musuh agama, terutama agama Islam. Mereka beranggapan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat.
  
2. Orang-orang atau golongan dari paham yang menamakan dirinya sekular, yang menolak secara terang-terangan pada agama Allah dan memerangi siapa saja yang berdakwah dan mengajak masyarakat untuk kembali pada syariat dan hukum Allah.
  
3. Orang-orang dari aliran kebatinan, misalnya golongan Duruz, Nasyiriah, Ismailiah dan lain-lainnya. Kebanyakan dari mereka itu berada di Suriah dan sekitarnya.


Al-Imam Ghazali pernah berkata:

"Pada lahirnya mereka  itu  bersifat  menolak  dan  batinnya kufur."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata:

"Mereka lebih kafir daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena sebagian besar mereka ingkar pada landasan Islam."

Seperti halnya mereka yang baru muncul di  masa  itu,  yaitu yang  bernama  Bahaiah,  agama  baru  yang  berdiri sendiri. Begitu juga golongan yang mendekatinya, yaitu Al-Qadiyaniah, yang  beranggapan bahwa pemimpinnya adalah Nabi setelah Nabi Muhammad saw.

DIPETIK DARIPADA FATWA-FATWA DR YUSUF AL-QARADHAWI

Tuesday, 15 July 2014

KEPENTINGAN ILMU USULUDDIN (SYARAH AQIDAH TAHAWIYAH)


Ilmu usuluddin merupakan ilmu yang paling mulia kerana kemuliaan ilmu itu bergantung kepada intipati ilmu itu sendiri. Ia adalah fiqh al-akbar bagi nisbah fiqh al-furuk. Oleh itu, Imam Abu Hanifah r.a. menamakan pendapat dan karangannya dalam bidang usuluddin sebagai 'fiqh al-akbar'. Keperluan manusia kepada ilmu adalah mengatasi segala ilmu, kerana hati tidak akan hidup, tidak tenang dan tidak selesa melainkan dengan mengenali Tuhan yang disembah dan yang menjadikannya dengan mengenali nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dengan itu Tuhan akan menjadi yang paling dikasihinya daripada segala-galanya dan segala kerja serta amalannya hanyalah ke arah mendekatkan diri kepada-Nya dan bukannya kepada makhluk-makhluk yang lain.

Adalah mustahil dengan akal semata-mata dapat mengetahui dan mengenali semua itu dengan terperinci. Maka dengan rahmat Allah yang Maha Mulia dan Mengasihani telah mengutuskan para rasul untuk memperkenalkannya dan menyeru ke arahnya. Mereka memberikan berita gembira kepada orang-orang yang menyahut seruan mereka dan memberikan berita menakutkan kepada orang-orang yang menolaknya. Allah menjadikan anak kunci dakwah dan risalah para rasul ini mengenali Tuhan yang disembah dengan merangkumi nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Ini kerana dengan pengetahuan inilah terbinanya semua tuntutan-tuntutan risalah dari awal hingga yang terakhir.

seterusnya ia diikuti oleh dua usul yang utama :

Pertama : Mengetahui jalan yang boleh menyampaikan kepadanya (iaitu syariat yang merangkumi perintah dan larangan-Nya)

Kedua : Memberitahu orang-orang yang melalui jalan itu tentang ganjaran nikmat yang kekal abadi yang akan mereka perolehi setelah mereka mencapainya.

Manusia yang paling mengenal Allah ialah orang yang paling mengikut jalan yang boleh menyampai kepada-Nya dan orang yang paling tahu tentang orang-orang yang mengikut jalan tersebut. Oleh itu Allah menamakan ajaran yang diturunkan-Nya sebagai roh kerana kehidupan yang hakiki bergantung kepadanya, dan juga Dia menamakannya dengan nur kerana hidayah adalah bergantung dengannya. Firman Allah S.W.T:

Maksudnya : Dia memberikan wahyu dari hal perintah-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya daripada kalangan hamba-hamba-Nya (yang telah dipilih menjadi Rasul-Nya) Surah Mukmin : 15

Maksudnya : Dan demikianlah Kami wahyukan kepada mu (wahai Muhammad)-al-Quran sebagai roh (yang menghidupkan hati) dengan perintah Kami, engkau tidak pernah mengetahui (sebelum diwahyukan kepadamu) : apakah Kitab (al-Quran) itu dan tidak juga mengetahui apakah iman itu, akan tetapi Kami jadikan al-Quran. Cahaya yang memerangi, Kami beri petunjuk dengannya sesiapa yang Kami kehendaki antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) adalah memberi petunjuk dengan al-Quran itu ke jalan yang lurus. Iaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Ingatlah! Kepada Allah jualah kita kembali segala urusan.

Tidak ada roh melainkan pada ajaran yang dibawa oleh rasul dan tidak ada cahaya melainkan yang menggunakan ajaran rasul sebagai suluhan. Allah menamakan ajaran yang diturunkan kepada rasul sebagai ubat sebagaimana firman-Nya :

Maksudnya : Katakanlah (wahai Muhammad) : "al-Quran itu, menjadi (cahaya) petunjuk serta penawar"

Sekalipun al-Quran secara umumnya adalah penawar dan petunjuk, akan tetapi oleh kerana orang yang mahu mengambil manfaat daripadanya hanyalah orang-orang yang beriman maka Allah hanya menyebut mereka sahaja.

Thursday, 10 July 2014

PENDAHULUAN KITAB SYARAH AQIDAH TAHAWIAH


Imam Abu Jaafar Ahmad bin Muhammad al-Tahawi yang meninggal dunia pada tahun 322 hijrah telah mengarang satu kitab yang kandungannya perlu diketahui dan diyakini oleh setiap mukallaf. Kandungannya merangkumi masalah usuluddin seperti masalah Tauhid, sifat-sifat Allah, qadar, kenabian, hari akhirat dan isu-isu akidah lain dengan menggunakan pendekatan Ahli Sunnah wal Jamaah dalam kalangan Salafussoleh. Ulama-ulama Salaf dan Khalaf telah menerima dan memperakui kitab ini dan ia telah menjadi masyhur. Kitab ini telah disyarahkan oleh ramai ulama'. Akan tetapi, syarah yang paling hampir menepati manhaj Salaf , yang paling sahih dan tepat ialah syarah yang dilakukan oleh Ibn Abi Izz yang kami persembahkan ke pangkuan para pembaca beserta dengan pengesahan, jauh daripada kesilapan dan penyelewengan.

Dalam membuat syarah kitab ini, Ibn Abi Izz rahimahullah telah mengikut manhaj Salaf yang telah digariskan panduannya dan dipertahankan oleh ahli ilmu kurun ke 3 hijrah. Imam Ibn Abi Izz telah mengerah segala tenaga yang ada untuk menjelaskan kebenaran manhaj ini dengan membawakan dalil-dalil bagi membuktikan kebenarannya dan mengkritik manhaj lain yang bertentangannya. Beliau mendedahkan kecacatan manhaj yang lain, menerangkan pertentangannya dan jauhnya daripada kebenaran dengan menggunakan dalil naqli dan aqli yang diambil daripada al-Qur'an dan al-Sunnah. Dengan ketajaman fikiran yang ada pada imam ini, didapati penjelasan, penerangan, kekuatan hujah yang dipaparkab dan dalil-dalil yang banyak dikemukakan sememangnya tiada tolok banding antara kitab-kitab syarah yang lain.

Ini tidak menghairankan kerana pendekatan ini adalah kesinambungan daripada Madrasah Sheikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah yang menjadi sumber untuk menimbulkan kesedaran ahli ilmu, membetulkan kefahaman, mengembalikan orang ramai kepada sumber yang asli, jauh daripada taqlid dan ikut-ikutan. Imam Ibn Abi Izz telah membaca semua tulisan Ibn Taimiyyah dan anak muridnya Ibn Qayyim rahimahullah dalam bidang akidah serta telah memahami sepenuhnya. Kemudian beliau telah meringkaskannya dalam syarah kitab yang berkualiti dan bernilai tinggi ini.

Tuesday, 8 July 2014

PERKEMBANGAN ILMU AQIDAH



PERKEMBANGAN ILMU AQIDAH
Oleh : Ustaz Ahmad Naim bin Azlan

Ringkasan peringkat perkembangan ilmu aqidah adalah seperti berikut:

1.    Zaman Rasulullah S.A.W
a.    Umat Islam (para sahabat) menerima segala ajaran Rasulullah S.A.W  tanpa banyak persoalan, jika ada maka mereka terus bertanyakan pada Baginda.
b.    Oleh itu tidak timbul masalah perbahasan aqidah seperti sifat 20 atau sifat ketuhanan.
c.    Kefahaman para sahabat pada waktu itu sangat hebat. Mereka mampu memahami al-Quran dan hadis dengan baik tanpa kekeliruan.
d.    Para sahabat tidak mempersoalkan makna di sebalik aqidah dan sifat Allah sebaliknya terus menerima tanpa soal.
e.    Para sahabat ada bersama Rasulullah S.A.W ketika wahyu disampaikan maka mereka dapat mempelajari ajaran Islam secara langsung. Ini menguatkan lagi pemahaman mereka.
f.     Rasulullah S.A.W menegah para sahabat dari banyak mempersoalkan perihal zat Allah serta qada’ dan qadr.

2.    Zaman Selepas Kewafatan Rasulullah S.A.W
a.    Dalam pemerintahan khalifah pertama iaitu Abu Bakar tidak timbul masalah perbahasan aqidah kerana para sahabat masih ramai, dan mereka lebih fokus kepada usaha menghadapi ancaman musuh-musuh Islam.
b.    Apabila mereka berdepan dengan ayat mutasyabihah mereka beriman dengannya secara langsung dan tanpa mempersoalkan maksud di sebaliknya dan menyerahkan maknanya kepada Allah S.W.T.
c.    Adapun perselisihan yang berlaku pada waktu tersebut hanyalah dalam perkara furu’ (cabang) bukannya dalam permasalahan usul.
d.    Jika timbul sebarang keraguan maka mereka terus merujuk al-Quran dan Hadis. Sekiranya tak dijumpai maka mereka mengamalkan qias.
e.    Para sahabat khususnya khalifah kedua, Saidina Umar bin al-Khattab menentang keras tindakan memperbahaskan perkara yang berkaitan dengan aqidah.
f.      
3.    Zaman Khalifah Saidina Umar bin al-Khattab R.A
a.    Jajahan takluk kerajaan Islam bertambah luas sehingga ke benua Afrika, maka penganut agama Islam bertambah dengan pesat.
b.    Dalam masa yang sama ramai para sahabat yang telah wafat.
c.    Umat bangsa bukan Arab mula memeluk Islam dan mereka tidak mampu memahami perkara yang berkaitan dengan agama secara mendalam.
d.    Pertembungan ideologi atau fahaman lama mereka dengan ajaran yang dibawa oleh Islam menimbulkan kecelaruan kepada bangsa bukan Arab khusunya. Tambahan pula mereka masih terpengaruh dan susah untuk menghapuskan adat dan kepercayaan lama mereka.

4.    Zaman Khalifah Saidina Uthman bin Affan R.A
a.    Berlaku pertelingkahan dan kekacauan politik yang serius dalam pentadbiran yang akhirnya mengakibatkan pembunuhan khalifah.
b.    Perpecahan umat Islam membuatkan timbuk pelbagai puak dan ini mengakibatkan terjadi perdebatan, perbahasan dan pentakwilan ayat al-Quran khusunya berkaitan aqidah mengikut pandangan puak masing-masing.
c.    Periwayatan hadis palsu bertambah banyak.
d.    Akhirnya muncul pelbagai fahaman baru dalam Islam.

5.    Zaman Khalifah Saidina Ali bin Abi Talib R.A
a.    Perpecahan di kalangan umat Islam semakin serius rentetan peristiwa pembunuhan Saidina Uthman.
b.    Suasana umat Islam pada waktu tersebut kacau bilau dan rapuh.
c.    Ini membuka ruang bagi musuh Islam untuk merosakkan umat Islam dengan lebih mudah, khususnya golongan Saba’iyah.
d.    Muncul golongan Khawarij dan Syiah yang menyimpang dari ajaran aqidah Islam sebenar.
6.    Zaman Khilafah Bani Umayyah
a.    Lahir kebebasan untuk membincangkan perkara-perkara yang didiamkan oleh ulama-ulama salaf, maka muncullah mereka yang memperbahaskan masalah qada’ dan qadar antaranya Ma’bad al-Juhani, Ghailan ad-Dimasyqi dan Ja’d ibnu Dirham.
b.    Selepas itu lahir pula golongan yang menafikan qudrat dan iradat manusia. Golongan ini dinamakan Jabariyyah dan diasaskan oleh Jahm bin Safwan.
c.    Fahaman ini akhirnya dikembangkan dan mempengaruhi fahaman Mu’tazilah. Fahaman ini disebarkan pada penghujung abad pertama oleh puak aliran Khawarij. Hassan al-Basri menyanggah aliran ini dan tidak disetujui oleh muridnya Wasil bin Ata’.
d.    Wasil bin Ata’ akhirnya mengasingkan diri dari Hasan al-Basri dan menggelar diri mereka Mu’tazilah.
e.    Muncul aliran Mu’tazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Ata’. Aliran ini banyak menyimpang dari konsep aqidah Ahlu Sunnah wal Jamaah.

7.    Zaman Khilafah Abbasiyah
a.    Dianggap sebagai zaman keemasan perkembangan ilmu empayar Islam. Kekuatan empayar Islam dikatakan berada di tahap kemuncak pada zaman ini.
b.    Perluasan jajahan takluk Islam semakin meluas dan semakin ramai memeluk Islam, walaubagaimanapun umat Islam terpaksa menghadapi pengaruh kepercayaan lama yang datang daripada bekas penganut Majusi dan lain-lain.
c.    Perdebatan dan perbahasan berkenaan aqidah semakin hebat dan meluas. Pengaruh fahaman yang salah terutamanya Mu’tazilah merebak di kalangan umat Islam.
d.    Oleh  demikian lahirlah tokoh-tokoh Islam yang berusaha mempertahankan aqidah ahlu sunnah wal jamaah antaranya Imam Abu Hasan al-Asy’ari.
e.    Berlainan dengan method disiplin ilmu aqidah ulama’ salaf, pendekatan yang baru diguna pakai untuk mematahkan hujah golongan Mu’tazilah yang berhujah berdasarkan akal dalam perbahasan aqidah. Pendekatan ini ialah menggunakan dalil atau hujah aqli (akal) di samping dalil naqli (al-Quran dan as-Sunnah)
f.     Perkembangan ilmu sangat pesat. Banyak kitab ditulis dan diterbitkan dalam pelbagai bidang termasuk aqidah. Ilmu aqidah mula dipelajari oleh umat Islam sebagai cabang ilmu terpenting dalam Islam.
g.    Hal ini berlarutan sehingga ditubuhkan fakulti usuluddin di universiti-universiti.